Mood Ibu Bekerja di Kota Besar Senggol Bacok. Inilah Alasan Logisnya!



Kita sering menemukan kejadian luar biasa yang melibatkan ibu-ibu, terutama dalam hal kontrol emosi. Ada ibu-ibu yang berebut kursi KRL sampai main smackdown. Ada ibu-ibu di jalan serempetan langsung main bacot. Ada ibu-ibu rumpi di pengkolan, akhirnya berujung saling bacok. Sebenarnya ada apa dengan ibu-ibu ini? Eta terangkanlah.


Sejatinya semua wanita diciptakan dengan kelemah-lembutan. Tapi, hati sapi aja beku kalau dimasukin kulkas kelamaan, hati ibu-ibu juga beku kalau kurang kehangatan dan kasih sayang (Yaelah..). Bukan bermaskud lebay. tapi faktanya, inilah faktor penyebab ibu bekerja di kota besar punya mood senggol bacok.



Lelah Bekerja Seharian

Rutinitas kerja 8 jam memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepertiga hari hanya digunakan untuk fokus pada hal yang monoton, bahkan kadang tidak begerak dari tempat kerjanya. Rasa lelah, jenuh, dan stress membuat emosi sangat mudah terpicu. Sumbu pendeknya para ibu-ibu bekerja mungkin bisa berawal dari sini.

Waktu Habis di Jalan

Kebanyakan pekerja di kota besar tidak cukup beruntung memiliki tempat tinggal yang dekat dengan kantornya. Bahkan ada yang perlu waktu ber jam-jam di jalan, berganti-ganti alat transportasi. Selain energi dan uang yang terbuang, kesabaran juga bisa jadi tercecer sepanjang jalan. Jangan dikira hal ini sepele. Semua orang berjuang untuk bisa merasa nyaman selama perjalanan berangkat dan pulang, termasuk ibu-ibu bersumbu pendek ini.

Kurang Kasih Sayang Suami dan Anak

Bekerja menyita banyak waktu dan perhatian. Begitu mata melek pagi hari, boro-boro mau nguyel-nguyel suami. Langsung kepikiran bikin sarapan, menyiapkan kebutuhan anak dan suami, sambil memastikan bisa berangkat tepat waktu. Semakin mepet bangunnya, semakin pendek sumbunya. Pulang kerja dengan badan masih lelah, ibu-ibu setrong ini masih membereskan pekerjaan rumah. Waktu berkasih sayang sungguh jauh dari cukup. Jarang dibelai dan membelai, bisa jadi faktor yang menambah pendek sumbu kesabaran ibu bekerja.

Memendam Kesedihan dan Merasa Tidak Sempurna

Mulut yang julid bisa ada di mana-mana. Nggak orang tua, mertua, kakak, adik, ipar, apalagi tetangga yang taunya sampai pager depan doang. Ibu bekerja sering dinilai macam-macam. Diluar rekening yang masih saja kopong di akhir bulan, penampilan yang masih saja kucel, seperti kerja kerasnya tidak berbekas demi cicilan dan masa depan si kecil. Nyinyiran yang masuk kuping, biasanya nancep di hati, ini juga yang bikin para ibu semakin menjerit. Juleha lelah bang.. lelah...



6 komentar:

Rach Alida Bahaweres mengatakan...

Halo mba salam kenal ya. Alhamdulillah saya bersyukur tidak merasakan mood yang seperti mba sampaikan walaupun saya adalah ibu bekerja. Jadi ya memang tak semua ibu bekerja di kota besar punya mood senggol bacok :)

Faiz Fira mengatakan...

Ngerasa benget jaman kerja dan kadang gitu, masalah kantor berimbas di rumah, masalah rumah berimbas di kantor. Entahlah, gak semua ibu kali ya

Pu Spa mengatakan...

hai juga mba alida. alhamdulillah kalo begitu. memang sih nggak semuanya, tapi suka prihatin kalo menemukan ibu model begitu di jalan. sebagai sesama ibu, bukan gemes, malah jadi prihatin karena membayangkan beratnya kehidupan dia sampai harus melakukan hal-hal seperti itu.

Pu Spa mengatakan...

iya mbak, fira. saya setuju nggak semuanya begini. tapi saya juga merasakan stressnya jadi ibu bekerja. eh, tapi nggak semua sih. buktinya mba adila enggak ya.. hehehehe...

Aprillia Ekasari mengatakan...

Hehehe iya ya sudah kodratnya makhluk sensitif, lalu aktivitasnya padat pula. ya sbg sesama perempuan sama2 tau lha :)
TFS

Pu Spa mengatakan...

iya, berusaha bersimpati. tapi kadang nggak tahan buat julid juga sih.

Diberdayakan oleh Blogger.