23 November 2017

# Social Media

Kemerdekaan dari Haters Bukan Hanya Milik Rina Nose


Wajah ayu dan tingkah lucunya kini tak lagi menghiasi layar kaca. Setelah menuai beragam reaksi dari pemirsa, Rina Nose, begitu dia akrab disapa memutuskan untuk membuka hijabnya. Bukan membuka dalam arti yang buruk, langsung berbikini atau semacamnya. Hanya saja, lidah para haters ternyata telah mengganggu kemerdekaan Rina Nose dalam memutuskan mengenakan gaya pakaian. Singkatnya,komentar netizen lebih pahit daripada racun sianida.

True That Haters Gonna Hate

Setelah lama menuai pujian tentang cantiknya Rina Nose ketika berhijab, bagaimana tingkahnya yang lucu dan menggemaskan nampaknya belum cukup untuk membungkap para haters. Entah dari mana asal mereka, dan rahim siapa mereka lahir, nampaknya jemari haters begitu fasih menuliskan ujaran kebencian, bahakan kepada orang yang sesungguhnya tidak perlu dibenci. Lantas apa daya Rina Nose menyelamatkan dirinya dari serbuan haters? Dibalik gemerlap panggung dimana ia mencari nafkah, dibaliknya ada sosok perasa yang sebenarnya butuh dibela.

Sosial media mungkin dinilai banyak orang berperan dalam keputusan yang diambilnya. Tempat dimana haters tumbuh subur dibalik akun anonim yang bebas mengatakan apapun, sekalipun itu menyakiti hati orang lain. Akun Rina Nose termasuk satu dari banyak akun dimana haters menempel seperti benalu, mengomentari apapun yang sejatinya tak perlu dijejali ujaran kebencian. Mereka bebas merkomentar, layaknya Tuhan, mendosa-haramkan apa yang sebenarnya menjadi proses yang baik bagi diri Rina Nose.

Banyak haters siap nyinyir dengan menghalalkan berbagai alasan. Setelah menghakimi ketidaklurusan perilaku hijabers aliran Rina Nose, kondisi telanjang hijabnya pun turut menjadi santapan. bukannya semakin reda, hujan komentar dan hujatan di sosial media menjadi semakin deras. Ditambah lagi rentetan wawancara infotainment menyambut semua orang yang mau mengomentari Rina Nose. Beberapa ustad menggunakannya untung numpang tenar dengan ceramah-ceramah yang samasekali tidak meredakan masalah. Rina Nose, semakin tidak merdeka.

Anti Social Media Social Media Club

Diakui atau tidak, kekuatan sosial media begitu kuat hingga bisa membelenggu kebebasan seseorang yang katanya dijamin oleh undang-undang. Begitu nyata sampai banyak orang membangun pencitraan secara masif di sosial media. Begitu menggiurkan sampai perusahaan hijab sekelas Rabbani rela banting image memanfaatkan fenomena Rina Nose. Seperti kurang memahami bahwa keputusan Rina Nose bukan karena tidak mampu membeli kerudung, namun tidak mampu membeli kebebasan untuk bisa memeluk agamanya dengan damai, dengan merdeka. Bukan upaya solutif, tapi malah memperburuk keadaam.

Kedamaian dalam bersosial media sebenarnya sudah didambakan semua orang. Namun gaya hidup dengan memamerkan berbagai kegiatan, tampilan, bahkan harta sudah barang pasti menimbulkan banyak sisi positif dan negatif. Banyak aktivis sosial emdia mendapatkan penghasilan, namun tidak sedikit juga yang malah menuai cacian. Tidak ada yang bisa dipastikan di jagad maya, namun sudah barang pasti sesuatu yang menjadi viral akan menimbulkan berbagai efek kepada si empunya akun. 

Budaya Membangun Konten Positif

Ketika akun gosip tumbuh seperti jamur di musim hujan, menggaungkan budaya konten positif hampir seperti menggarami lautan. Tapi, bukan berarti menyerah untuk memperjuangkan kemerdekaan dalam mendapat input positif dari sosial media. membudayakan posting bijak, informatif, membangun dan mencerdaskan merupakan salah satu misi untuk membuat internet ramah semua orang. Diharapkan puluhan tahun kedepan, internet tidak hanya berisi berita sampah, pamer kekayaan, pamer badan, atau iklan peninggi badan atau pembesar payudara.

Seperti Rina Nose, dan ribuan pemilik akun yang disesaki oleh banyak haters. Bahkan beberapa haters punya fanbase kuat, militan! Sejatinya mereka telah merenggut kebebesan orang lain. Saat ini yang perlu diperjuangkan adalah membangun budaya untuk berkata yang baik atau diam. Tidak menasehati jika tidak pernah bertemu muka. Tidak menjadi Tuhan hanya karena punya kuota. Sejatinya kebebasan bersosial media bukan hanya kita perjuangkan untuk Rina Nose saja, tapi untuk semuanya, seluruh warga dunia maya.


No comments:

Post a Comment