27 August 2016

# Virals

Siapakah Mukidi, Tokoh Fenomenal di Grup Whatsapp



Mukidi, nama yang sedang ramai menjadi perbincangan pada media sosial dan grup perbincangan. Cerita humor Mukidi tiba-tiba menyebar secara viral lewat media sosial. Di berbagai grup messenger WhatsApp.Tak jelas siapa yang memulai, humor Mukidi yang begitu Indonesia itu menjadi perbincangan. Mukidi menjadi salah satu trending topic di twitter. Jika mengacu pada perbicangan pada media sosial dan grup perbincangan, maka dia adalah sosok fiksi dalam sejumlah kisah humor.


Siapa Mukidi?

Entah benar atau tidak, yang jelas cerita-cerita tentang Mukidi ini telah berhasil menghibur dan membuat kita tertawa. Namun, dalam sebuah blog ceritamukidi.wordpress.com mengatakan:

" Mukidi adalah seorang pria paruh baya yang berasal dari Cilacap. Mukidi tipikal orang yang biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja. Punya karir tapi kadang-kadang bisa menjadi apa saja.
Mukidi juga memiliki istri bernama Markonah, juga punya karir tapi tidak terlalu istimewa. Anak mereka 2 orang, Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran yang masih duduk di bangku SD. Sahabatnya adalah Wakijan, dan masih banyak sosok lain seperti Jaya, tetangga Mukidi yang muncul dalam salah satu cerita. "



Cerita si Mukidi memang sangat singkat dan lucu. Penasaran dengan tingkah si Mukidi? Simak cerita berikut!


#Menulis Surat

Mukidi melihat mbah Kartinem sedang kebingungan di kantor pos.
"Bisa saya bantu nek?"
"Tolong pasangin perangko sama tulis alamatnya nak."
"Ada lagi nek?"
"Bisa bantuin tulis isi suratnya sekalian?" Mukidi mengangguk. Si mbah lalu mendiktekan surat sampai selesai.
"Cukup nek?"
"Satu lagi nak. Tolong di bawah ditulis: maaf tulisan nenek jelek."



#Rakaat Shalat

Wakijan sudah insyaf dan mulai rajin ngaji.
"Mas Wakijan, sholat Subuh ada berapa rakaat?" Ustad ngetes.
"4, ustad!"
"Mas Wakijan pulang dulu deh, cari jawaban yang benar."
Di tengah jalan Wakijan ketemu Mukidi sahabatnya.
 “Di, menurut kamu sholat Subuh ada berapa rakaat?”
"Ya 2 lah."
"Wah payah dah, mendingan lu pulang deh. Belajar lagi."
"Emang kenapa?"
"Nah gue bilang 4 aja masih salah, apalagi 2?"